KENDARI, AKSAKATASULTRA.ID
Driver Sumali Salah satu komunitas Driver Maxim di kota Kendari resmi berdiri. “Tak ada perjuangan yang sia-sia jika dilandasi niat baik dan tekad yang kuat,” ujar Zulmalik, salah satu driver Maxim di Kendari, dengan sorot mata penuh keyakinan.
Hari ini di Kantor Maxim Kota Kendari, menjadi saksi ketika komunitas DRIVER SUMALI (DS) resmi menyatakan diri sebagai bagian dari keluarga besar driver Maxim di Kota Kendari.
Momentum ini bukan sekadar peresmian biasa. Di balik pengumuman yang sederhana, terselip rangkaian perjuangan panjang, diskusi intens, hingga pembentukan struktur yang solid. DS, yang kini berdiri sebagai komunitas resmi, lahir dari kegelisahan para driver yang ingin memiliki wadah aspirasi, saling dukung, serta ruang belajar bersama.
Zulmalik, yang akrab disapa Onjol, menyebut bahwa kehadiran DS di tengah hiruk-pikuk jalanan Kendari merupakan bukti bahwa para driver bukan sekadar pengemudi roda dua atau empat. “Kami ini tulang punggung keluarga, pejuang nafkah, tapi juga manusia yang butuh tempat saling menguatkan,” ujarnya, Jumat (11/4/2025).
Menurut Onjol, sejak awal terbentuk, DS memiliki mimpi besar: menjadi komunitas yang tak hanya memperjuangkan hak-hak driver, tapi juga menciptakan budaya saling peduli, tertib, dan profesional. “Kami belajar disiplin, komunikasi efektif dengan penumpang, hingga cara menyikapi konflik di lapangan,” kata dia.
Ketua Umum DS, yang akrab disapa Jo, dalam pernyataannya menegaskan bahwa keberhasilan ini adalah buah dari kesabaran, konsistensi, dan semangat kolektif seluruh anggota. “Dalam mencapai sesuatu, pondasi harus kuat. Ini bukan akhir, tapi awal perjuangan kita bersama,” tulis Jo dalam pengantar peresmiannya.
Ke depan, DS merancang berbagai program pelatihan, penguatan solidaritas, serta keterlibatan aktif dalam kegiatan sosial. “Kami ingin membuktikan, driver pun bisa jadi agen perubahan,” ucap Jo sambil menyisipkan senyum bangga.
Di tengah lalu lintas yang tak pernah tidur, komunitas seperti DS menjadi oase bagi mereka yang lelah di persimpangan. Kini, Sumali tak hanya menapaki aspal demi aspal, tapi juga menapaki jalan panjang menuju perubahan yang lebih berarti.





