KENDARI, AKSAKATASULTRA.ID
Ketegangan menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Provinsi Sulawesi Tenggara mulai menghangat. Salah satu sorotan datang dari pernyataan Abu Hasan, Ketua Panitia Penyelenggara Musda, yang menyarankan Laode Darwin agar tidak mencalonkan diri sebagai Ketua DPD Partai Golkar Sultra dan fokus saja sebagai Bupati Muna Barat.
Pernyataan itu sontak menuai reaksi keras dari Muhammad Ridwan, Wakil Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Muna Barat.
Dalam keterangannya kepada media, Ridwan menilai pernyataan Abu Hasan sebagai bentuk sikap tendensius yang justru menciderai semangat Musda sebagai ajang demokrasi internal partai.
“Saya menyarankan kepada Pa Abu Hasan untuk bersikap netral, karena kapasitas beliau sebagai Ketua Panitia Penyelenggara Musda menuntut sikap tidak berpihak. Kalau tidak, ini bisa melahirkan spekulasi dan interpretasi liar di kalangan kader,” ujar Ridwan, Jumat (30/5).
Ia menegaskan, setiap kader yang hendak mencalonkan diri sebagai Ketua DPD Golkar Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) memiliki hak politik yang sama. Proses seleksi dan dinamika internal seharusnya dibiarkan berjalan sebagaimana mestinya tanpa intervensi pendapat yang menggiring opini publik.
“Soal kesiapan seorang bakal calon tentu ada banyak variabel yang harus dipenuhi. Namun sebaiknya diberi ruang untuk berproses. Jika tidak memenuhi syarat, tentu akan gugur dengan sendirinya. Tapi bila memenuhi kriteria dan mendapat dukungan mayoritas, kita harus berjiwa besar menerimanya,” kata Ridwan.
Ia juga menyinggung soal ukuran kematangan dalam berorganisasi yang tak semata ditentukan oleh usia atau lama berkecimpung di partai, tetapi lebih kepada rekam jejak kepemimpinan dalam organisasi profesi, kemenangan dalam kontestasi politik, dan integritas dalam berorganisasi.
“Jangan sempitkan makna matang hanya sebatas umur. Kita harus melihat hasil nyata yang dicapai seseorang dalam dunia organisasi dan politik,” tegasnya.
Ridwan kembali menekankan agar Abu Hasan menahan diri dari membuat pernyataan yang bisa memperkeruh suasana menjelang Musda.
“Pernyataan beliau berpotensi menimbulkan polemik dan kesan tidak netral. Padahal posisi beliau sebagai Ketua Panitia sangat strategis dan harus menjadi wasit yang adil,” pungkasnya.
Musda Partai Golkar Sultra tahun ini diprediksi akan menjadi ajang adu gagasan yang ketat di antara para kader terbaik. Namun dinamika internal hanya bisa menghasilkan pemimpin yang solid jika seluruh elemen dalam partai memegang teguh prinsip netralitas dan sportivitas.





